WIN Media, Banyuwangi, 23/2/2026 – Every Ramadan arrives, one takjil dish always becomes the queen in Banyuwangi: Kue Patola. This traditional cake of the Osing ethnic group is never out of hunters.
In afternoon markets, small stalls, and home production centers, long queues always appear near breaking-fast time. What is the secret behind the eternal popularity of this uniquely textured cake?
According to Didik B. Saputro, a culinary observer from Banyuwangi, the answer lies in the perfect combination of nostalgia-evoking taste, unique texture, and attached cultural values. “Kue Patola is not just food. It is Banyuwangi’s culinary identity passed down through generations. Every bite takes us back to childhood memories and invaluable ancestral traditions,” said Didik.
The Phenomenon of Extraordinary Demand Surge
Data from Kue Patola artisans in Banyuwangi shows a demand surge of 300 to 500 percent during Ramadan compared to regular days. If outside Ramadan they only produce 50-100 cakes per day, during Ramadan they can reach 500-1000 cakes per day.
Didik B. Saputro explains the factors driving this phenomenon. “First, the tradition of breaking fast with sweets is very strong in Banyuwangi. Kue Patola with its sweet taste from palm sugar and savory coconut milk becomes the top choice. Second, nostalgic value is very strong. Many migrants return home for Eid, and they always seek Kue Patola as a remedy for homesickness,” he explained.
Taste Factor: Unmatched Harmony
Kue Patola has a unique flavor profile. Made from a mixture of rice flour, glutinous rice flour, palm sugar, and coconut milk, this cake offers a balanced blend of sweet and savory. Its soft, chewy texture with characteristic holes—resulting from a special molding process—makes it different from other traditional cakes.
“The taste of Kue Patola is perfect harmony. Not too sweet, not too savory. Suitable for all ages, from children to the elderly. This is what makes it always missed,” explained Didik.
The distinctive pandan aroma also adds to its appeal. Pandan leaves not only give natural green color to some variants but also provide a fragrant aroma that stimulates the appetite.
Cultural Value and Osing Tradition
Kue Patola is not just an ordinary snack. In Osing culture, this cake has symbolic meaning and often appears in various traditional ceremonies. Its colors—green, pink, white—symbolize diversity and harmony in life.
“Kue Patola is a living cultural heritage. It not only survives but continues to evolve and remain relevant. Every Ramadan, the tradition of making and sharing Kue Patola becomes a moment to strengthen social bonds among residents. This is added value that modern foods don’t have,” revealed Didik.
Affordable Price, High Purchasing Power
Economic factors also play a role. Kue Patola is sold at very affordable prices, ranging from IDR 1,000 to IDR 2,000 per piece, depending on size. With IDR 10,000, a family can enjoy filling takjil.
“Amidst rising basic food prices, Kue Patola remains a choice because of its stable and affordable price. Artisans usually don’t raise prices during Ramadan, despite surging demand. This is a form of social concern worth appreciating,” added Didik.
Abundant Availability in Various Places
It’s not difficult to find Kue Patola in Banyuwangi during Ramadan. Artisans sell them at:
- Afternoon markets such as Banyuwangi Market, Rogojampi Market, and Genteng Market.
- Takjil stalls along main roads.
- Home production centers in villages like Kemiren and surrounding areas.
- Online platforms through social media and WhatsApp.
“This is another advantage: high accessibility. Consumers can easily get them, either by coming directly or ordering online. Even many migrants order them to be sent out of town,” explained Didik.
Creativity and Innovation of Young Artisans
Although traditional, Kue Patola is not allergic to innovation. Young artisans in Banyuwangi are starting to present new flavor variants such as chocolate, cheese, and matcha. They also innovate in packaging, making it more hygienic and attractive, suitable as souvenirs.
“This innovation is important to attract the younger generation’s interest. But what’s encouraging is that they still maintain the essence and original taste. So, even with new variants, traditional Kue Patola remains the main queen,” said Didik.
Some artisans have also started using digital platforms to market their products. They are active on Instagram, Facebook, and TikTok, showcasing the beauty of Kue Patola and its making process. As a result, orders come not only from Banyuwangi but also from out of town and even out of the island.
Tips for Choosing Quality Kue Patola:
- Check Texture: Choose those with soft, chewy texture and evenly distributed holes. Avoid those that are too mushy or hard.
- Smell the Aroma: Quality Kue Patola has a distinctive pandan and palm sugar aroma.
- Observe Color: Green color from pandan leaves or natural dyes should be bright, not dull.
- Buy from Trusted Places: Prioritize buying directly from artisans or regular sellers to guarantee authentic taste.
A Message of Preservation for the Younger Generation
Didik B. Saputro urges the younger generation of Banyuwangi to be proud and participate in preserving Kue Patola. “We must not be prouder of modern cakes than our own ancestral heritage. Kue Patola is our identity as Osing people. Let us preserve, develop, and introduce it to the world,” he concluded.
Now, when Ramadan arrives, Banyuwangi transforms into Kue Patola paradise. From traditional markets to online shops, from roadside stalls to modern cafes, this colorful cake accompanies breaking-fast moments. It is not just takjil, but also a binder of gratitude, a strengthener of tradition, and a social adhesive for Banyuwangi’s community.
Primadona Takjil di Banyuwangi: Mengapa Kue Patola Selalu Jadi Incaran Saat Ramadan?

WIN Media, Banyuwangi, 23/2/2026 – Setiap bulan Ramadan tiba, satu hidangan takjil selalu menjadi primadona di Banyuwangi: Kue Patola. Kue tradisional khas Suku Osing ini tidak pernah sepi pemburu.
Di pasar-pasar sore, warung-warung kecil, hingga sentra produksi rumahan, antrean panjang selalu terlihat menjelang waktu berbuka. Apa rahasia di balik popularitas abadi kue bertekstur unik ini?
Menurut Didik B. Saputro, pengamat kuliner dari Banyuwangi, jawabannya terletak pada kombinasi sempurna antara rasa yang membangkitkan nostalgia, tekstur yang unik, dan nilai budaya yang melekat. “Kue Patola bukan sekadar makanan. Ia adalah identitas kuliner Banyuwangi yang telah diwariskan turun-temurun. Setiap gigitan membawa kita pada kenangan masa kecil dan tradisi leluhur yang tak ternilai,” ujar Didik.
Fenomena Lonjakan Permintaan yang Luar Biasa
Data dari para perajin kue patola di Banyuwangi menunjukkan lonjakan permintaan hingga 300 hingga 500 persen selama bulan Ramadan dibandingkan hari biasa. Jika di luar Ramadan mereka hanya memproduksi 50-100 kue per hari, saat Ramadan bisa mencapai 500-1000 kue per hari.
Didik B. Saputro menjelaskan faktor-faktor yang mendorong fenomena ini. “Pertama, tradisi berbuka dengan yang manis sangat kuat di Banyuwangi. Kue Patola dengan rasa manis legit dari gula merah dan gurihnya santan menjadi pilihan utama. Kedua, nilai nostalgia sangat kuat. Banyak perantau yang pulang kampung saat Lebaran, dan mereka selalu mencari Kue Patola sebagai pengobat rindu,” paparnya.
Faktor Rasa: Harmoni yang Tak Tertandingi
Kue Patola memiliki profil rasa yang unik. Terbuat dari campuran tepung beras, tepung ketan, gula merah, dan santan, kue ini menawarkan perpaduan manis dan gurih yang seimbang. Teksturnya yang lembut, kenyal, dan berlubang-lubang khas—hasil dari proses pencetakan dengan cetakan khusus—membuatnya berbeda dari kue tradisional lainnya.
“Rasa Kue Patola adalah harmoni yang sempurna. Tidak terlalu manis, tidak terlalu gurih. Pas di lidah semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Inilah yang membuatnya selalu dirindukan,” jelas Didik.
Aroma pandan yang khas juga menambah daya tarik tersendiri. Daun pandan tidak hanya memberi warna hijau alami pada beberapa varian, tetapi juga memberikan aroma wangi yang menggugah selera.
Nilai Budaya dan Tradisi Osing
Kue Patola bukan sekadar camilan biasa. Dalam budaya Suku Osing, kue ini memiliki makna simbolis dan sering hadir dalam berbagai upacara adat. Warna-warninya—hijau, merah muda, putih—melambangkan keberagaman dan keharmonisan dalam kehidupan.
“Kue Patola adalah warisan budaya yang hidup. Ia tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang dan tetap relevan. Setiap Ramadan, tradisi membuat dan berbagi Kue Patola menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga. Ini nilai tambah yang tidak dimiliki makanan modern,” ungkap Didik.
Harga Terjangkau, Daya Beli Tinggi
Faktor ekonomi juga berperan. Kue Patola dijual dengan harga sangat terjangkau, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per buah, tergantung ukuran. Dengan uang Rp 10.000, satu keluarga bisa menikmati takjil yang mengenyangkan.
“Di tengah kenaikan harga bahan pokok, Kue Patola tetap menjadi pilihan karena harganya yang stabil dan terjangkau. Para perajin biasanya tidak menaikkan harga saat Ramadan, meski permintaan melonjak. Ini bentuk kepedulian sosial yang patut diapresiasi,” tambah Didik.
Ketersediaan Melimpah di Berbagai Tempat
Tidak sulit menemukan Kue Patola di Banyuwangi selama Ramadan. Para perajin menjualnya di:
- Pasar-pasar sore seperti Pasar Banyuwangi, Pasar Rogojampi, dan Pasar Genteng.
- Warung-warung takjil di pinggir jalan utama.
- Sentra produksi rumahan di kampung-kampung seperti Kemiren dan sekitarnya.
- Platform online melalui media sosial dan WhatsApp.
“Ini keunggulan lain: aksesibilitasnya tinggi. Konsumen bisa dengan mudah mendapatkannya, baik dengan datang langsung maupun memesan online. Bahkan banyak perantau yang memesan untuk dikirim ke luar kota,” jelas Didik.
Kreativitas dan Inovasi Perajin Muda
Meski tradisional, Kue Patola tidak alergi terhadap inovasi. Generasi muda perajin di Banyuwangi mulai menghadirkan varian rasa baru seperti cokelat, keju, dan matcha. Mereka juga berinovasi dalam kemasan, membuatnya lebih higienis dan menarik, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh.
“Inovasi ini penting untuk menarik minat generasi muda. Tapi yang menggembirakan, mereka tetap mempertahankan esensi dan cita rasa asli. Jadi, meski ada varian baru, Kue Patola tradisional tetap menjadi primadona utama,” ujar Didik.
Beberapa perajin juga mulai menggunakan platform digital untuk memasarkan produknya. Mereka aktif di Instagram, Facebook, dan TikTok, memamerkan keindahan Kue Patola dan proses pembuatannya. Hasilnya, pesanan datang tidak hanya dari Banyuwangi, tapi juga dari luar kota dan bahkan luar pulau.
Tips Memilih Kue Patola Berkualitas:
- Perhatikan Tekstur: Pilih yang teksturnya lembut, kenyal, dan berlubang merata. Hindari yang terlalu lembek atau keras.
- Cium Aromanya: Kue Patola berkualitas memiliki aroma pandan dan gula merah yang khas.
- Lihat Warna: Warna hijau dari daun pandan atau pewarna alami harus cerah, tidak kusam.
- Beli di Tempat Terpercaya: Utamakan membeli dari perajin langsung atau penjual langganan untuk menjamin keaslian rasa.
Pesan Pelestarian untuk Generasi Muda
Didik B. Saputro berpesan agar generasi muda Banyuwangi bangga dan ikut melestarikan Kue Patola. “Jangan sampai kita lebih bangga dengan kue modern daripada warisan leluhur sendiri. Kue Patola adalah identitas kita sebagai orang Osing. Mari kita jaga, kita kembangkan, dan kita perkenalkan ke dunia,” pungkasnya.
Kini, saat Ramadan tiba, Banyuwangi berubah menjadi surga Kue Patola. Dari pasar tradisional hingga toko online, dari warung pinggir jalan hingga kafe kekinian, kue berwarna-warni ini hadir menemani momen berbuka. Ia bukan sekadar takjil, tapi juga pengikat rasa syukur, penguat tradisi, dan perekat kebersamaan masyarakat Banyuwangi.

