WIN Media, Makassar, 18/2/2026 – Amidst the hustle and bustle of Makassar City stands a magnificent mosque with unique architecture, blending Chinese ornaments and Islamic nuances. Muhammad Cheng Hoo Mosque is not just a place of worship but also a living monument reminding us of the legacy of a Chinese Muslim admiral whose name is renowned in the history of the Archipelago: Admiral Cheng Hoo (Zheng He).
In the 15th century, during the golden age of the Ming Dynasty, Admiral Cheng Hoo led a fleet of giant ships on seven major expeditions across the oceans. He was not only a military commander but also a messenger of peace and diplomacy who carried trade missions while spreading Islamic values along his maritime routes.
According to M. Nawir, Senior Researcher from Sulisa Matra Bangsa Makassar, Cheng Hoo’s legacy in the Archipelago, including in Makassar, holds profound historical significance. “Cheng Hoo was a unique figure: a Muslim, a military commander, and a skilled diplomat. His expeditions were not for colonization but to build friendly relations between nations. In every place he visited, he left cultural, trade, and Islamic influences,” said Nawir.
A Muslim Admiral Across the Oceans
Admiral Cheng Hoo was born as Ma He in Yunnan province, China, in 1371. He came from a Hui ethnic Muslim family. Captured and made a court eunuch, he later rose to become an admiral trusted by Emperor Yongle. His expertise in navigation, diplomacy, and military affairs made him entrusted to lead the world’s largest fleet of his time.
During his voyages, Cheng Hoo visited various kingdoms in the Archipelago, including Samudra Pasai, Malacca, Java, and possibly as far as Sulawesi. He was known as a bearer of peaceful missions who respected local kingdoms and established mutually beneficial trade relations.
M. Nawir explains that although historical records of Cheng Hoo in Makassar are not as abundant as in Java or Sumatra, his influence is still felt. “Makassar as a spice trade center at that time would certainly not have escaped Cheng Hoo’s attention. His fleet may have stopped to trade and interact with local communities. From these interactions, Islamic values began to be introduced in a peaceful and wise manner,” he explained.
Islamic Propagation Through Trade Routes
One of Cheng Hoo’s greatest contributions was his role in spreading Islam through trade routes. Unlike the spread of Islam in earlier times which often involved conflict, Cheng Hoo used cultural and economic approaches. He brought traders, scholars, and Muslim artists in his fleet, who then interacted with local communities.
At every port they visited, they not only traded but also built mosques, taught the Quran, and introduced moderate Islamic culture. “This was a very elegant model of dakwah. Not forcing, but offering. Through exemplary conduct and positive interactions, Islam was welcomed with open arms by local communities,” explained Nawir.
This approach is highly relevant to the character of Makassar society, known for being open and egalitarian. As a center of maritime trade and commerce, Makassar has long been a meeting place for various cultures and religions. Cheng Hoo’s presence and that of his followers further enriched the mosaic of this diversity.
Muhammad Cheng Hoo Mosque: A Monument of Honor
To commemorate the services of Admiral Cheng Hoo, the Muhammad Cheng Hoo Mosque Indonesia Foundation established a magnificent mosque in Makassar in 2011. This mosque became the 12th in a network of similar mosques across Indonesia, following those in Surabaya, Jakarta, and other cities.
The mosque’s architecture reflects the acculturation of Chinese and Islamic cultures. Its roof is pagoda-shaped, decorated with typical red and green Chinese ornaments, and beautiful lanterns. Inside, however, there is a mihrab and pulpit as in any typical mosque. Within the complex, there is also a statue of Admiral Cheng Hoo and a small museum displaying replicas of his ships and historical artifacts.
“This mosque is not only a place for prayer but also a center for education and intercultural dialogue. Many tourists, both Muslim and non-Muslim, come to see its unique architecture and learn about Cheng Hoo’s history. It is a bridge connecting the past with the present, China with Indonesia, and Islam with Chinese culture,” said M. Nawir.
Makassar and the Chinese-Muslim Legacy
The existence of Cheng Hoo Mosque also reminds us of the role of the Chinese-Muslim community in Makassar, which has long contributed to the social and religious life of this city. They are an inseparable part of the diverse mosaic of Makassar society.
M. Nawir adds that the Chinese-Muslim legacy in Makassar did not begin with Cheng Hoo but was strengthened by him. “Before Cheng Hoo, there were already Muslim traders from China stopping in Makassar. However, Cheng Hoo provided legitimacy and special pride. He proved that being Muslim and having Chinese culture is not a contradiction but a beautiful harmony,” he revealed.
Relevance in the Present Day
Amidst the challenges of intolerance and radicalism, the story of Admiral Cheng Hoo offers an example of peaceful, open Islam that respects diversity. It teaches that religion need not be spread through violence but through exemplary conduct and wisdom.
Muhammad Cheng Hoo Mosque in Makassar has now become a popular religious tourism destination, not only for Muslims but also for general tourists. Every year, thousands of people come to pray, learn history, or simply admire the beauty of its architecture. During Imlek and Cap Go Meh celebrations, the mosque also becomes a center for activities involving various communities.
“This mosque is a symbol that Islam and Chinese culture can blend beautifully. It teaches us about tolerance, brotherhood, and mutual respect. May the spirit of Cheng Hoo continue to live in the hearts of the people of Makassar and Indonesia in general,” concluded M. Nawir.
Jejak Laksamana Cheng Hoo di Makassar: Sejarah Panjang Penyebaran Islam Oleh Laksamana Muslim Tiongkok Abad Ke-15

WIN Media, Makassar, 18/2/2026 – Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar, berdiri megah sebuah masjid dengan arsitektur yang unik, memadukan ornamen Tionghoa dan nuansa Islam. Masjid Muhammad Cheng Hoo bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga monumen hidup yang mengingatkan kita pada jejak seorang laksamana Muslim Tiongkok yang namanya harum dalam sejarah Nusantara: Laksamana Cheng Hoo (Zheng He).
Pada abad ke-15, di masa kejayaan Dinasti Ming, Laksamana Cheng Hoo memimpin armada kapal raksasa dalam tujuh ekspedisi besar melintasi samudra. Ia bukan hanya seorang panglima perang, tetapi juga utusan perdamaian dan diplomasi yang membawa misi dagang sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam di sepanjang jalur pelayarannya.
Menurut M. Nawir, Peneliti Senior dari Sulisa Matra Bangsa Makassar, jejak Cheng Hoo di Nusantara, termasuk di Makassar, memiliki signifikansi historis yang mendalam. “Cheng Hoo adalah sosok unik: ia seorang Muslim, panglima perang, dan diplomat ulung. Ekspedisinya bukan untuk menjajah, melainkan membangun hubungan persahabatan antar bangsa. Di setiap tempat yang disinggahi, ia meninggalkan pengaruh budaya, perdagangan, dan juga nilai-nilai keislaman,” ujar Nawir.
Laksamana Muslim di Tengah Samudra
Laksamana Cheng Hoo lahir dengan nama Ma He di provinsi Yunnan, Tiongkok, pada tahun 1371. Ia berasal dari keluarga Muslim etnis Hui. Ditangkap dan dijadikan kasim kerajaan, ia kemudian naik pangkat menjadi laksamana kepercayaan Kaisar Yongle. Keahliannya dalam navigasi, diplomasi, dan militer membuatnya dipercaya memimpin armada terbesar di dunia pada masanya.
Dalam pelayarannya, Cheng Hoo singgah di berbagai kerajaan di Nusantara, termasuk Samudra Pasai, Malaka, Jawa, dan kemungkinan hingga ke Sulawesi. Ia dikenal sebagai pembawa misi damai yang menghormati kerajaan-kerajaan lokal dan menjalin hubungan dagang yang saling menguntungkan.
M. Nawir menjelaskan bahwa meskipun catatan sejarah tentang Cheng Hoo di Makassar tidak sebanyak di Jawa atau Sumatra, pengaruhnya tetap terasa. “Makassar sebagai pusat perdagangan rempah-rempah pada masa itu tentu tidak luput dari perhatian Cheng Hoo. Armadanya mungkin singgah untuk berdagang dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Dari interaksi itulah, nilai-nilai Islam mulai diperkenalkan dengan cara yang damai dan bijaksana,” paparnya.
Penyebaran Islam Melalui Jalur Perdagangan
Salah satu kontribusi terbesar Cheng Hoo adalah perannya dalam menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan. Berbeda dengan penyebaran Islam di masa sebelumnya yang kerap melalui jalur konflik, Cheng Hoo menggunakan pendekatan budaya dan ekonomi. Ia membawa para pedagang, ulama, dan seniman Muslim dalam armadanya, yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Di setiap pelabuhan yang disinggahi, mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga membangun masjid, mengajarkan Al-Qur’an, dan memperkenalkan budaya Islam yang moderat. “Ini adalah model dakwah yang sangat elegan. Tidak memaksa, tapi menawarkan. Melalui keteladanan dan interaksi positif, Islam diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat lokal,” jelas Nawir.
Pendekatan ini sangat relevan dengan karakter masyarakat Makassar yang dikenal terbuka dan egaliter. Sebagai pusat pelayaran dan perdagangan, Makassar telah lama menjadi tempat bertemunya berbagai budaya dan agama. Kehadiran Cheng Hoo dan para pengikutnya semakin memperkaya mozaik keberagaman tersebut.
Masjid Muhammad Cheng Hoo: Monumen Penghormatan
Untuk mengenang jasa-jasa Laksamana Cheng Hoo, Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia mendirikan masjid megah di Makassar pada tahun 2011. Masjid ini menjadi yang ke-12 dari jaringan masjid serupa di Indonesia, setelah masjid-masjid di Surabaya, Jakarta, dan kota lainnya.
Arsitektur masjid ini mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan Islam. Atapnya berbentuk pagoda, dihiasi ornamen khas Tionghoa berwarna merah dan hijau, serta lampion-lampion yang indah. Namun di dalamnya, terdapat mihrab dan mimbar sebagaimana masjid pada umumnya. Di kompleks masjid, terdapat juga patung Laksamana Cheng Hoo dan museum kecil yang memamerkan replika kapal serta artefak sejarah.
“Masjid ini bukan hanya tempat shalat, tapi juga pusat edukasi dan dialog antarbudaya. Banyak wisatawan, baik Muslim maupun non-Muslim, datang untuk melihat keunikan arsitekturnya dan belajar tentang sejarah Cheng Hoo. Ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, Tiongkok dengan Indonesia, dan Islam dengan budaya Tionghoa,” kata M. Nawir.
Makassar dan Jejak Tionghoa-Muslim
Keberadaan Masjid Cheng Hoo juga mengingatkan kita pada peran komunitas Tionghoa-Muslim di Makassar yang telah lama berkontribusi dalam kehidupan sosial dan keagamaan kota ini. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari mozaik masyarakat Makassar yang majemuk.
M. Nawir menambahkan bahwa jejak Tionghoa-Muslim di Makassar tidak dimulai dengan Cheng Hoo, tetapi diperkuat olehnya. “Sebelum Cheng Hoo, sudah ada pedagang Muslim dari Tiongkok yang singgah di Makassar. Namun, Cheng Hoo memberi legitimasi dan kebanggaan tersendiri. Ia membuktikan bahwa menjadi Muslim dan berbudaya Tionghoa bukanlah kontradiksi, melainkan harmoni yang indah,” ungkapnya.
Relevansi di Masa Kini
Di tengah tantangan intoleransi dan radikalisme, kisah Laksamana Cheng Hoo menawarkan teladan tentang Islam yang damai, terbuka, dan menghargai keberagaman. Ia mengajarkan bahwa agama tidak harus disebarkan dengan kekerasan, melainkan dengan keteladanan dan kebijaksanaan.
Masjid Muhammad Cheng Hoo di Makassar kini menjadi destinasi wisata religi yang populer, tidak hanya bagi umat Islam tetapi juga wisatawan umum. Setiap tahun, ribuan orang datang untuk beribadah, belajar sejarah, atau sekadar mengagumi keindahan arsitekturnya. Pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan yang melibatkan berbagai komunitas.
“Masjid ini adalah simbol bahwa Islam dan budaya Tionghoa bisa berpadu indah. Ia mengajarkan kita tentang toleransi, persaudaraan, dan saling menghormati. Semoga semangat Cheng Hoo terus hidup di hati masyarakat Makassar dan Indonesia pada umumnya,” pungkas M. Nawir.

