WIN Media, Makassar, 13/2/2026 – In the Losari Beach area, the iconic heart of Makassar City, stands an architectural masterpiece that not only delights the eyes but also soothes the soul. Amirul Mukminin Mosque, better known as the Floating Mosque of Makassar, stands firmly on the ocean’s surface, seemingly symbolizing that Islamic sharia floats above civilization, while the faith of its congregation anchors steadfastly amidst the dynamics of modern life.
During high tide, the mosque building appears to genuinely float atop the Makassar Strait. This view creates a stunning optical illusion, especially at dusk. Thousands of visitors flock to this area daily, not only to perform prayers but also to witness the architectural marvel that blends modern, contemporary, and Islamic elements.
Located at Jalan Penghibur Number 289, Losari Village, Ujung Pandang District, this mosque was built during the administration of Makassar Mayor Ilham Arief Sirajuddin. Its concept involves construction with foundations directly over seawater, supported by 164 piles firmly embedded in the seabed. During high tide, these piles are submerged, creating the illusion of a floating building. Covering an area of 1,683 square meters, this three-story mosque can accommodate approximately 500 worshippers.
The mosque’s official name is actually Masjid 99 Al Makazzary. The number 99 symbolizes Asmaul Husna, the 99 beautiful names of Allah, while Al Makazzary refers to Sheikh Yusuf, a grand imam of the Grand Mosque in Mecca who is also a revered scholar from South Sulawesi. This combination reflects the spirit of connecting universal Islamic values with local wisdom.
The architectural uniqueness of this mosque also lies in its two 9-meter diameter domes that serve as its crown. Beneath the domes, a recreational space allows visitors to relax while enjoying the sea breeze and the romantic sunset view. Remarkably, these domes also function as a location for hilal monitoring to determine the beginning of Ramadan.
M. Nawir, Senior Researcher from the Sulisa Matra Bangsa institute in Makassar, offers a profound perspective on the Floating Mosque phenomenon. “The presence of the Floating Mosque on Losari Beach is not merely an architectural icon but also a representation of the dialectic between spirituality and urban space,” he told WIN Media Online.
Nawir explains, “The philosophy of ‘sharia that floats’ can be interpreted as Islamic teachings that are universal and adaptive to time and space, yet remain on the surface—serving as a guide, not drowning in the currents of change. Meanwhile, ‘faith that anchors’ reflects the Makassar community, historically known as skilled sailors. They understand that amidst the fierce waves of life, faith is the anchor that prevents the soul from drifting away.”
Furthermore, this senior researcher, who is also active in various socio-humanities studies, emphasizes the importance of the mosque’s social function. “The Floating Mosque has successfully become an inclusive public space. It is visited not only for worship but also for social interaction, tourism, and even dining. This is the face of a friendly, open Islam that integrates with the city’s pulse,” he added.
This inclusive function is evident in the diverse activities at the mosque. The ground floor is designated for male worshippers, the second floor for women, and the third floor for individual sunnah prayers. In the surrounding area, visitors can enjoy Makassar’s specialty cuisine like pisang epe while waiting for maghrib prayer time. At night, artistic lighting makes the mosque even more enchanting, reflecting its image on the calm sea surface.
As Indonesia’s first floating mosque, Amirul Mukminin Mosque has become a source of pride for the people of Makassar and a leading religious tourism destination. Its success as both a spiritual and social space proves that Islamic architecture in Indonesia continues to develop creatively without losing its essence.
From the mosque’s terrace, worshippers and visitors can gaze upon the vast expanse of the Makassar Strait—the same sea that for centuries has witnessed the journeys of sailors, traders, and Islamic propagators throughout the archipelago. There, on the water’s surface, whether calm or choppy, sharia continues to float, and faith never ceases to anchor.
Masjid Terapung Makassar: Syariat yang Mengapung, Iman yang Berlabuh di Selat Makassar

WIN Media, Makassar, 13/2/2026 – Di kawasan Pantai Losari yang menjadi ikon Kota Makassar, terdapat sebuah mahakarya arsitektur yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menenteramkan jiwa. Masjid Amirul Mukminin, yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Terapung Makassar, berdiri kokoh di atas permukaan laut, seolah menjadi simbol bahwa syariat Islam mengapung di atas peradaban, sementara iman para jamaahnya berlabuh teguh di tengah dinamika kehidupan modern.
Saat air laut pasang, bangunan masjid ini tampak benar-benar mengapung di atas Selat Makassar. Pemandangan tersebut menciptakan ilusi optik yang memukau, terutama ketika senja tiba. Ribuan pengunjung memadati kawasan ini setiap harinya, bukan hanya untuk menunaikan ibadah, tetapi juga untuk menyaksikan keajaiban arsitektur yang memadukan unsur modern, kontemporer, dan Islami.
Masjid yang terletak di Jalan Penghibur Nomor 289, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujung Pandang ini dibangun pada masa pemerintahan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. Konsepnya dibangun dengan pondasi tepat di atas air laut, ditopang oleh 164 tiang pancang yang tertanam kokoh di dasar laut. Saat air pasang, tiang-tiang tersebut tertutup air sehingga menciptakan ilusi bangunan yang mengapung. Dengan luas mencapai 1.683 meter persegi, masjid berlantai tiga ini mampu menampung sekitar 500 jamaah.
Nama resmi masjid ini sebenarnya adalah Masjid 99 Al Makazzary. Angka 99 melambangkan Asmaul Husna, 99 nama indah Allah, sementara Al Makazzary merujuk pada Syekh Yusuf, seorang imam besar Masjidil Haram yang juga merupakan ulama kebanggaan Sulawesi Selatan. Perpaduan nama ini mencerminkan semangat menghubungkan nilai-nilai universal Islam dengan kearifan lokal.
Keunikan arsitektur masjid ini juga terletak pada dua kubah berdiameter 9 meter yang menjadi mahkotanya. Di bawah kubah, tersedia ruang rekreasi di mana pengunjung dapat bersantai sambil menikmati hembusan angin laut dan pemandangan matahari terbenam yang romantis. Bahkan, kubah ini juga difungsikan sebagai tempat pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Ramadan.
M. Nawir, Peneliti Senior dari lembaga Sulisa Matra Bangsa Makassar, memberikan perspektif mendalam tentang fenomena Masjid Terapung ini. “Kehadiran Masjid Terapung di Pantai Losari bukan sekadar ikon arsitektural, tetapi juga representasi dari dialektika antara spiritualitas dan ruang urban,” ujarnya kepada WIN Media Online.
Nawir menjelaskan, “Filosofi ‘syariat yang mengapung’ dapat dimaknai sebagai ajaran Islam yang bersifat universal dan adaptif terhadap ruang dan waktu, namun tetap berada di atas permukaan—menjadi pedoman, bukan tenggelam oleh arus perubahan. Sementara ‘iman yang berlabuh’ adalah refleksi dari masyarakat Makassar yang secara historis dikenal sebagai pelaut ulung. Mereka memahami bahwa di tengah ganasnya ombak kehidupan, imanlah sauh yang menjaga agar jiwa tidak hanyut.”
Lebih lanjut, peneliti senior yang juga aktif dalam berbagai kajian sosial-humaniora ini menekankan pentingnya fungsi sosial masjid. “Masjid Terapung telah berhasil menjadi ruang publik yang inklusif. Ia tidak hanya dikunjungi untuk beribadah, tetapi juga untuk berinteraksi, berwisata, bahkan berkuliner. Ini adalah wajah Islam yang ramah, terbuka, dan menyatu dengan denyut nadi kota,” tambahnya.
Fungsi inklusif tersebut tampak dari beragamnya aktivitas di masjid ini. Lantai bawah dikhususkan untuk jamaah pria, lantai dua untuk wanita, dan lantai tiga untuk salat sunnah individu. Di area sekitar, pengunjung dapat menikmati kuliner khas Makassar seperti pisang epe sambil menunggu waktu magrib tiba. Pada malam hari, pencahayaan yang artistik membuat masjid ini semakin memesona, memantulkan bayangannya di permukaan laut yang tenang.
Sebagai masjid terapung pertama di Indonesia, Masjid Amirul Mukminin telah menjadi kebanggaan masyarakat Makassar sekaligus destinasi wisata religi unggulan. Keberhasilannya menjadi ruang spiritual sekaligus ruang sosial membuktikan bahwa arsitektur Islam di Indonesia terus berkembang secara kreatif tanpa kehilangan esensinya.
Dari teras masjid ini, jamaah dan pengunjung dapat memandang hamparan Selat Makassar yang luas—laut yang sama yang selama berabad-abad menjadi saksi perjalanan para pelaut, pedagang, dan penyebar Islam di Nusantara. Di sanalah, di atas permukaan air yang tenang maupun bergelombang, syariat terus mengapung dan iman tak henti berlabuh.

