13 Maret 2026

Sustainable Tourism or Just A Passing Fad? Dissecting The Sustainability and Conservation Challenges of Malang’s Colorful Villages

WIN Media, Malang, 8/2/2026 – Malang’s colorful villages, such as Jodipan (Blue Village) and Arema (White Village), have become tourism magnets drawing thousands of visitors. However, behind the Instagram-worthy photos and community economic activity lies a critical question: is this phenomenon a mature sustainable tourism model, or just a passing trend (fad) that will eventually fade?

As a resident who experienced the transformation firsthand, Hari Sulistyo (48), a community activist in Kampung Biru Jodipan, offers a balanced perspective. “Initially, it was a breath of fresh air. From a neglected and slum-like environment, we gained new pride. The economy moved, from selling bottled water to homestays. But after more than seven years, we are starting to see real sustainability challenges,” he said.

Challenge 1: The Recurring Cost of Conservation
Paint, as the main element of attraction, is not a permanent material. Tropical sun and rain quickly erode the colors. “The cost to repaint every 1-2 years is significant, and not all residents can afford it. Community self-funding is often insufficient. Without sustainable assistance from corporate CSR or the government, these colors will become worn and lose their charm,” Hari explained. This creates a new financial burden amid fluctuating tourism income.

Challenge 2: Community Fatigue and Privacy Disruption
The constant influx of tourists, regardless of time, often disturbs comfort. “Our homes are photo objects. Sometimes, visitors enter yards without permission, are noisy, or litter. There is social fatigue. The initial spirit of mutual cooperation can decline if residents feel they are only ‘photo backdrops’ without their privacy being respected,” Hari clarified.

Challenge 3: Dependence on a Single Attraction
The village’s economy is now heavily dependent on visual tourism. “This is risky. What happens if the colorful village trend becomes passe in the eyes of travelers? Or if a similar, more Instagrammable destination appears? We realize we need to develop added value, such as painting workshops, cultural festivals, or stronger MSME products, so tourists come not just for photos, but for experiences and stories,” he added.

The Way Forward: From Color to Substance
Hari and several other activists see the need for a model evolution. “True sustainability is not just about maintaining good paint. It’s about strengthening community resilience, managing social impact, and creating a diverse creative economy. For example, diverting some income to a joint conservation fund, establishing agreed-upon tourism ethics rules, and educating the younger generation to become guides or managers,” concluded Hari.

The future of Malang’s Colorful Villages is now at a crossroads. Its success in transforming from a fad to a sustainable destination will be determined by the ability of all parties—residents, government, businesses, and tourists—to collaborate in preserving not just the colors on the walls, but also the inclusive and creative spirit within the community.

Tips for Responsible Tourists:

Keep it Clean: Take your trash with you or dispose of it in provided bins.

Ask for Permission: Always ask before photographing residents or private property.

Respect Privacy: Do not peek or enter homes without an invitation.

Contribute: Buy food/drinks or crafts from local residents, not just bring your own supplies.


Sustainable Tourism atau Justru Fad Semata? Membedah Tantangan Keberlanjutan dan Konservasi Kampung Warna-warni Malang

WIN Media, Malang, 8/2/2026 – Kampung warna-warni di Malang, seperti Jodipan (Kampung Biru) dan Arema (Kampung Putih), telah menjadi magnet wisata yang mendatangkan ribuan pengunjung. Namun, di balik gemerlap foto Instagram dan geliat ekonomi warga, muncul pertanyaan kritis: apakah fenomena ini adalah model sustainable tourism yang matang, atau hanya tren sesaat (fad) yang suatu saat akan pudar?

Sebagai warga yang mengalami langsung transformasi itu, Hari Sulistyo (48), seorang penggiat komunitas di Kampung Biru Jodipan, menyampaikan pandangan yang berimbang. “Awalnya, ini adalah angin segar. Dari lingkungan kumuh dan terabaikan, kami punya kebanggaan baru. Ekonomi bergerak dari jualan air mineral hingga homestay. Tapi, setelah tujuh tahun lebih, kami mulai melihat tantangan keberlanjutan yang nyata,” ujarnya.

Tantangan 1: Biaya Konservasi yang Berulang
Cat, sebagai elemen utama daya tarik, bukanlah bahan yang abadi. Terik matahari dan hujan tropis dengan cepat menggerus warna. “Biaya untuk mengecat ulang setiap 1-2 tahun itu besar, dan tidak semua warga sanggup. Dana swadaya masyarakat seringkali tidak cukup. Jika tidak ada bantuan berkelanjutan dari CSR perusahaan atau pemerintah, warna-warni ini akan lusuh dan kehilangan pesona,” papar Hari. Ini menciptakan beban finansial baru di tengah pendapatan dari pariwisata yang fluktuatif.

Tantangan 2: Kelelahan Komunitas dan Gangguan Privasi
Kedatangan wisatawan yang tak kenal waktu seringkali mengganggu kenyamanan. “Rumah kami adalah objek foto. Kadang, tamu masuk pekarangan tanpa izin, berisik, atau buang sampah sembarangan. Ada kelelahan sosial (social fatigue). Semangat gotong royong awal bisa menurun jika warga merasa hanya jadi ‘latar belakang foto’ tanpa dihargai privasinya,” jelas Hari.

Tantangan 3: Ketergantungan pada Satu Daya Tarik
Ekonomi kampung kini sangat bergantung pada pariwisata visual. “Ini berisiko. Apa yang terjadi jika tren kampung warna-warni sudah basi di mata traveller? Atau jika muncul destinasi serupa yang lebih instagenik? Kami sadar perlu mengembangkan nilai tambah, seperti workshop melukis, festival budaya, atau produk UMKM yang lebih kuat, agar wisatawan datang bukan hanya untuk foto, tapi untuk pengalaman dan cerita,” tambahnya.

Jalan ke Depan: Dari Warna Menuju Substansi
Hari dan beberapa penggiat lainnya melihat perlunya evolusi model. “Keberlanjutan sejati bukan hanya tentang mempertahankan cat yang bagus. Ini tentang memperkuat ketahanan komunitas, mengelola dampak sosial, dan menciptakan ekonomi kreatif yang beragam. Misalnya, mengalihkan sebagian pendapatan untuk dana konservasi bersama, membuat aturan etika berwisata yang disepakati, dan mendidik generasi muda untuk menjadi pemandu atau pengelola,” pungkas Hari.

Masa depan Kampung Warna-Warni Malang kini berada di persimpangan. Keberhasilannya bertransformasi dari fad menjadi destinasi berkelanjutan akan ditentukan oleh kemampuan semua pihak—warga, pemerintah, pelaku usaha, dan wisatawan—untuk bekerja sama tidak hanya melestarikan warna di dinding, tetapi juga semangat inklusif dan kreatif di dalam hati masyarakatnya.

Tips untuk Wisatawan yang Bertanggung Jawab:

Jaga Kebersihan: Bawa pulang sampahmu atau buang di tempat yang disediakan.

Minta Izin: Selalu tanya sebelum memotret warga atau properti pribadi.

Hormati Privasi: Jangan mengintip atau masuk ke dalam rumah tanpa undangan.

Berkontribusi: Belilah makanan/minuman atau kerajinan dari warga setempat, bukan hanya membawa bekal sendiri.

Related News