13 Maret 2026

Setia Hati (SH) Winongo Madiun: The Modern-Day Crucible for Character Building in the Modern Era

WIN Media, Madiun, 18/1/2026 – Amidst the rapid flow of modernization and instant lifestyles, the Setia Hati (SH) Winongo pencak silat school in Madiun is finding increasing relevance. Not merely a place to train in martial arts, SH Winongo is now regarded as a modern “Candradimuka Crater” for forging the character and mentality of the younger generation.

Standing strong since 1903, this school founded by Ki Ngabei Soerodiwirjo holds fast to the noble teaching of “Memayu Hayuning Bawana” (to beautify the beauty of the world). This teaching is now interpreted contextually to address contemporary challenges such as hedonism, individualism, and identity crisis.

“Today, many people are strong physically and intellectually, but weak in mentality and character. This is where SH Winongo plays a role. Training here is not to become a champion or a fighter, but to become a human being who is ‘tanggap ing sasmita’ (sensitive to signs) and ‘andhap asor’ (humble) in daily life,” explained Harry Yulianto, a Sedulur Tunggal Kecer (senior member) from Madiun.

Harry emphasized that the character-building process at SH Winongo involves strict discipline and meaningful rituals. Every member must undergo the “Prasetya” (oath of allegiance) that binds them to the school’s code of ethics. Values such as honesty, loyalty, responsibility, and true leadership are instilled through every move, stance, and “tatap sanggah” (discussion) with the elders.

“Just look at the young people training. Initially, they might seek prestige or just follow the trend. But after undergoing the practice, they change. They learn to control their ego, respect others, and understand that true strength is for protection, not oppression. This is a crucial provision for facing the complexities of modern life, both in the professional and social spheres,” Harry elaborated.

The relevance of SH Winongo in the digital era is also evident in how the school embraces the youth. While preserving tradition, training now also incorporates values of entrepreneurship, social media ethics, and organizational leadership. Many members are students, university students, and young professionals who find life balance through the discipline of Setia Hati.

This school, like the Candradimuka Crater in wayang folklore that forges knights, continues to process and produce individuals who are not only physically tough but, more importantly, possess high integrity and a chivalrous spirit to navigate the times.

For the people of Madiun and its surroundings, SH Winongo is no longer just a cultural icon, but a living laboratory for character development that continues to shine amidst the clamor of the modern world.


Setia Hati (SH) Winongo Madiun: Menjadi Kawah Candradimuka Pembentukan Karakter di Zaman Modern

WIN Media, Madiun, 18/1/2026 – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gaya hidup instan, perguruan pencak silat Setia Hati (SH) Winongo di Madiun justru makin menemukan relevansinya. Bukan sekadar tempat berlatih ilmu bela diri, SH Winongo kini dipandang sebagai “Kawah Candradimuka” modern untuk menempa karakter dan mental generasi muda.

Berdiri kokoh sejak 1903, perguruan yang didirikan oleh Ki Ngabei Soerodiwirjo ini berpegang pada ajaran luhur “Memayu Hayuning Bawana” (memperindah keindahan dunia). Ajaran itu kini diartikan secara kontekstual untuk menjawab tantangan zaman, seperti budaya hedonisme, individualisme, dan krisis identitas.

“Sekarang ini banyak orang kuat secara fisik dan intelektual, tetapi lunak secara mental dan karakter. Di sinilah SH Winongo berperan. Latihan di sini bukan untuk jadi jagoan atau jago berkelahi, tetapi untuk jadi manusia yang ‘tanggap ing sasmita’ (peka terhadap fenomena) dan ‘andhap asor’ (rendah hati) dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Harry Yulianto, Sedulur Tunggal Kecer (senior perguruan) asal Madiun.

Harry menegaskan, proses pembentukan karakter di SH Winongo melalui disiplin yang ketat dan ritual yang sarat makna. Setiap anggota harus melalui proses “Prasetya” (sumpah setia) yang mengikatnya pada kode etik perguruan. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, dan kepemimpinan sejati ditanamkan melalui setiap jurus, gerakan, dan tatap sanggah (diskusi) dengan para sesepuh.

“Lihat saja anak-anak muda zaman sekarang yang latihan. Awalnya mungkin cari prestise atau sekadar ikut-ikutan. Tetapi setelah menjalani laku, mereka berubah. Mereka belajar mengendalikan ego, menghormati orang lain, dan memahami bahwa kekuatan sejati adalah untuk melindungi, bukan menindas. Ini adalah bekal penting untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern, baik di dunia kerja maupun sosial,” papar Harry.

Relevansi SH Winongo di era digital juga tampak dari cara perguruan ini merangkul kaum muda. Meski menjaga tradisi, latihan kini juga disisipkan dengan nilai-nilai kewirausahaan, etika bermedia sosial, dan kepemimpinan dalam organisasi. Banyak anggota yang merupakan pelajar, mahasiswa, dan profesional muda yang menemukan keseimbangan hidup melalui disiplin ilmu Setia Hati.

Perguruan ini, seperti Kawah Candradimuka dalam pewayangan yang menempa para ksatria, terus berproses melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi lebih utama berintegritas tinggi dan berjiwa ksatria dalam mengarungi zaman.

Bagi masyarakat Madiun dan sekitarnya, SH Winongo bukan lagi sekadar ikon budaya, melainkan laboratorium hidup pembangunan karakter yang terus menyala di tengah hingar-bingar dunia modern.

Related News