13 Maret 2026

The Nostalgic “Legit” Sensation: From Raw Banana to The Soft “Gethuk” Pisang of Kediri

WIN Media, Kediri, 3/2/2026 – In the colorful world of traditional snacks, Kediri’s Gethuk Pisang presents a charm that is simple yet irreplaceable: a soft, “legit” (chewy-malleable) texture and a natural sweetness that instantly evokes childhood memories. Its success in avoiding a hard or mushy texture is the result of a time-honored making ritual, starting with the selection of the right raw “pisang raja” (plantain) banana.

According to Adi Purnomo, a culinary observer from Kediri, the first key lies in the raw material. “Authentic Kediri Gethuk Pisang uses only raw ‘pisang raja’ (kepok) bananas, the skin still green. This type of banana is high in starch content. When steamed, this starch undergoes perfect gelatinization, creating a base texture that is dense yet smooth, not fibrous like ripe bananas,” Adi explained.

The Transformation Process: From Hard to Soft
After being steamed until perfectly cooked, the softened bananas are then pounded in a traditional mortar (lumpang). This stage is the heart of texture creation. “The pounding must be done while hot. The goal is not only to smoothen but also to further activate the starch and form a chewy network. Here, the skill of the artisan’s hands determines the final outcome: pounded too little results in coarse texture, too long can make it soggy,” elaborated Adi.

Once pounded until smooth and pliable, the dough is shaped. Typically, the dough is formed into balls and then filled with melted palm sugar (gula merah). Palm sugar is chosen for its complex sweetness and distinctive caramel aroma, different from granulated sugar.

The Secret to Avoiding Hardness: Moisture Control and Storage
The main enemy of gethuk is a hardened texture the next day. According to Adi Purnomo, this can be prevented in two ways. “First, the moisture content in the dough must be just right. The steamed bananas should not be too wet. Second, after cooking and cooling, the gethuk must be immediately wrapped tightly in plastic or banana leaves to seal in its natural moisture. Storage in a cool room temperature is better than in the refrigerator, as refrigeration actually accelerates the starch retrogradation process that makes it hard.”

The sensation of eating a successful gethuk pisang is when the first bite finds the slightly textured outer layer from the last un-crushed bits of banana, then immediately penetrates into the very soft, legit, and warm interior, accompanied by an overflow of sweet, liquid palm sugar. It is a simple yet powerful multisensory experience, an edible nostalgia that persists amidst the onslaught of modern packaged snacks.

“Gethuk Pisang is a manifestation of patience and a deep understanding of the nature of raw ingredients. It teaches us that from the simplest materials—raw bananas, grated coconut, palm sugar—a delight that touches the heart and memory can be born,” concluded Adi Purnomo.


Sensasi “Legit” Yang Nostalgia: Dari Pisang Mentah Hingga “Gethuk” Pisang Kediri Yang Lembut

WIN Media, Kediri, 3/2/2026 – Dalam dunia camilan tradisional yang penuh warna, Gethuk Pisang Kediri hadir dengan pesona yang sederhana namun tak tergantikan: tekstur “legit” yang lembut dan rasa manis alami yang langsung mengingatkan pada kenangan masa kecil. Keberhasilannya menghindari tekstur keras atau berlumpur adalah buah dari ritual pembuatan yang telah diwariskan turun-temurun, dimulai dari pemilihan pisang raja mentah yang tepat.

Menurut Adi Purnomo, pemerhati kuliner dari Kediri, kunci pertama terletak pada bahan baku. “Gethuk Pisang Kediri yang autentik hanya menggunakan pisang raja (kepok) yang masih mentah, kulitnya masih hijau. Pisang jenis ini tinggi kandungan patinya. Saat dikukus, pati tersebut akan mengalami gelatinisasi sempurna, menciptakan dasar tekstur yang padat namun halus, bukan berserat seperti pisang matang,” jelas Adi.

Proses Transformasi: Dari Keras Menjadi Lembut
Setelah dikukus hingga matang sempurna, pisang yang telah lunak kemudian ditumbuk di dalam lumpang (lesung). Tahap inilah yang menjadi jantung penciptaan tekstur. “Penumbukan harus dilakukan selagi panas. Tujuannya bukan hanya untuk menghaluskan, tetapi juga mengaktivasi pati lebih lanjut dan membentuk jaringan yang kenyal. Di sini, keahlian tangan sang perajin menentukan hasil akhir: ditumbuk terlalu sebentar akan kasar, terlalu lama bisa jadi lembek,” papar Adi.

Setelah ditumbuk hingga halus dan kalis, adonan dibentuk. Biasanya, adonan dibentuk bulat lalu diisi dengan gula merah (gula jawa) yang telah dicairkan. Gula merah dipilih karena memberikan rasa manis yang kompleks dan aroma karamel yang khas, berbeda dengan gula pasir.

Rahasia Agar Tidak Keras: Pengendalian Air dan Penyimpanan
Musuh utama gethuk adalah tekstur yang mengeras keesokan harinya. Menurut Adi Purnomo, hal ini dapat dicegah dengan dua cara. “Pertama, kadar air dalam adonan harus pas. Pisang yang dikukus jangan sampai terlalu basah. Kedua, setelah matang dan dingin, gethuk harus segera dibungkus rapat dengan plastik atau daun pisang untuk mengunci kelembapan alaminya. Penyimpanan di suhu ruang yang sejuk lebih baik daripada di kulkas, karena pendinginan justru mempercepat proses retrogradasi pati yang membuatnya keras.”

Sensasi memakan gethuk pisang yang sukses adalah ketika gigitan pertama menemukan kulit luar yang sedikit bertekstur dari butiran pisang yang terakhir hancur, lalu langsung menembus ke bagian dalam yang sangat lembut, legit, dan hangat, dibarengi dengan luberan gula merah cair yang manis. Ini adalah pengalaman multisensori yang sederhana namun kuat, sebuah nostalgia yang dapat dicicipi, yang tetap bertahan di antara gempuran camilan kemasan modern.

“Gethuk Pisang adalah manifestasi dari kesabaran dan pemahaman mendalam tentang sifat bahan alam. Ia mengajarkan bahwa dari bahan yang paling sederhana—pisang mentah, kelapa parut, gula merah—dapat lahir kelezatan yang menyentuh hati dan ingatan,” pungkas Adi Purnomo.

Related News